Belasan Temuan Artefak di Karangnongko Dipindah ke Monumen Juang Klaten

Belasan Temuan Artefak di Karangnongko Dipindah ke Monumen Juang Klaten Sejumlah artefak yang ditemukan di Kecamatan Karangnongko. Foto: klatenkab.go.id

Klaten, Pos Jateng - Sejumlah artefak yang ditemukan di Desa Demakijo dan Gumul, Kecamatan Karangnongko, Kabupaten Klaten dipindahkan ke Monumen Juang. Pemindahan tersebut dilakukan sebagai upaya pelestarian Obyek Diduga Cagar Budaya (ODCB) hasil temuan masyarakat.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata Kebudayaan Pemuda dan Olahraga (Disparbudpora) Klaten, Yuli Budi Susilowati mengatakan, ODCB tersebut sebelumnya tercecer di lahan milik masyarakat seperti areal persawahan, perkebunan, hingga tepi jalan umum.

“Kegiatan ini dimaksudkan untuk mengumpulkan ODCB yang tersebar agar lebih terawat dan terlestarikan. Karena, meski berada di lahan milik warga, tidak ada yang merawat,” kata Yuli, dilansir dari klatenkab.go.id pada Sabtu (16/10).

Ia menyampaikan, terdapat 11 artefak yang dipindahkan oleh Tim Sejarah dan Kepurbakalaan Disparbudpora Klaten, satu di antaranya berupa yoni (patung), sisanya pecahan arca dan batuan. Kegiatan ini juga bagian dari inventarisasi dan identifikasi benda cagar budaya.

“Kalau tidak kami kumpulkan, dikhawatirkan bertambah rusak hingga sulit untuk diidentifikasi. Padahal artefak yang ditemukan bisa jadi memiliki catatan sejarah yang penting,” paparnya.

Selanjutnya, ia akan berkoordinasi dengan Badan Arkeologi dan Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) untuk melakukan identifikasi lebih lanjut. Wilayah Kecamatan Karangnongko diperkirakan masih menyimpan banyak artefak yang masih belum ditemukan, terlebih di wilayah tersebut banyak terdapat situs bersejarah seperti Candi Merak.

Yuli menjelaskan, sebagian masyarakat masih belum memahami pentingnya pelestarian benda cagar budaya. Sehingga sebagian artefak yang ditemukan oleh warga kondisinya tidak terawat.

“Ada sebagian lainnya terawat dan dilestarikan oleh masyarakat, seperti artefak yang kondisinya tidak terpendam. Namun ada juga yang sampai beralih fungsi sebagai batu fondasi karena ketidaktahuan sebagian masyarakat. Ini merupakan tugas kami untuk memberikan edukasi,” katanya.