Kata ahli tentang tingkat keampuhan CoronaVac

Kata ahli tentang tingkat keampuhan CoronaVac Petugas kesehatan menunjukan vaksin saat simulasi uji klinis vaksin Covid-19 di FK Unpad, Bandung, Jabar, Kamis (6/8/2020). Foto Antara/M. Agung Rajasa

Vaksin Sinovac dengan efikasi 65,3% diyakini tetap aman untuk melindungi masyarakat dari paparan Covid-19. Efikasi atau tingkat keampuhan tersebut melebihi standar World Health Organization (WHO) sebesar 50%. 

Juru bicara Satgas Penanganan Covid-19, Wiku Adisasmito, menyampaikan, vaksin adalah upaya negara dalam melindungi masyarakat dari ancaman pandemi dan demi tercapainya kekebalan komunitas (herd immunity).

"Kami telah menerima rekomendasi dari WHO, bahwa nilai efikasi di atas 50% dapat diterima," katanya, beberapa waktu lalu.

Sedangkan ahli epidemiologi Griffith University Australia, Dicky Budiman, menyampaikan, hasil final efikasi CoronaVac, vaksin produksi Sinovac, di Brasil sebesar 50,4% tidak berpengaruh dengan Indonesia sehingga masyarakat tidak perlu cemas.

Dirinya melanjutkan, angka efikasi di Brasil maupun di Turki tidak bisa disamakan dengan efikasi di Indonesia karena proses uji klinis tahap III-nya berbeda.

"Hasil yang sedikit di atas threshold WHO itu tetap memiliki makna karena tetap memiliki efikasi yang memenuhi standar, itu tetap bisa kita gunakan sebagai pelindung," ucapnya.

Dia mengungkapkan, CoronaVac memang berbeda dari merek vaksin lain lantaran Sinovac Biotech mempersilakan proses uji klinis tahap III dilakukan di daerah pemesan, yakni Brasil, Turki, dan Indonesia.

Menurut Dicky, terbitnya izin penggunaan darurat (emergency use authorization/EUA) menandakan vaksin Sinovac memadai untuk dapat digunakan. Apalagi, hasil uji klinis fase III di Bandung menunjukkan efikasi vaksin Sinovac sebesar 65,3%. 

"Efikasi yang memadai, saya sampaikan memadai karena dia sudah memenuhi threshold," jelasnya.

Vaksinolog Dirga Sakti Rambe menambahkan, angka efikasi 65,3% sudah cukup meyakinkan bahwa CoronVac untuk Indonesia aman dan efektif. "Melebihi standar minimum efikasi WHO 50%."

Sementara itu, Kepala Badan Pengawas Obat dan Makanan (BPOM), Penny Lukito, menjelaskan, efikasi di Brasil berubah-ubah karena efikasi tidak dapat dibandingkan dengan platform yang berbeda walaupun platformnya sama dengan uji klinis di lokasi berbeda pun tidak dapat dibandingkan. Hal tersebut dikarenakan banyaknya parameter yang menentukan.

"Pertama, dari relawan sudah berbeda, jumlahnya berbeda; kemudian tingkat risiko dari relawan berbeda. Di Brasil 100% adalah tenaga kesehatan dan di Turki 20% adalah tenaga kesehatan dan 80% pekerja berisiko. Di Indonesia (masyarakat) umum dan ini justru lebih merepresentasikan masyarakat secara umum," tuturnya.