BPS: Indonesia Resmi Keluar dari Jurang Resesi

BPS: Indonesia Resmi Keluar dari Jurang Resesi Ilustasi ekonomi. Foto: Pixabay.com

Jakarta, Pos Jateng - Badan Pusat Statistik (BPS) mengumumkan bahwa Indonesia secara resmi keluar dari resesi. Hal tersebut terjadi karena pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal II-2021 mencapai 7,07% jika dibandingkan periode yang sama tahun lalu atau year on year (yoy).

Kepala BPS RI, Margo Yuwono memaparkan, pertumbuhan ekonomi Indonesia didasarkan pada besaran Produk Domestik Bruto (PDB) atas dasar harga berlaku mencapai Rp4.175,8 triliun dan atas dasar harga konstan 2010 mencapai Rp2.772,8 triliun.

"Dengan demikian kalau hitung pertumbuhan kuartal II-2021 secara qtq, tumbuh 3,31%. Sedangkan, kalau dibandingkan pada kuartal II-2020 atau yoy perekonomian Indonesia tumbuh 7,07%," katanya dalam konferensi pers virtual, Kamis (5/8).

Margo megatakan pertumbuhan positif ini disebabkan oleh pemulihan ekonomi yang terjadi pada kuartal II-2021. Hal itu ditandai dengan perbaikan sisi ekspor dan impor seiring dengan perbaikan ekonomi di negara mitra dagang.

Ekspor misalnya, lanjut dia, meningkat sebesar 55,89% dibandingkan kuartal II-2020, sedangkan jika dibandingkan kuartal I-2021 tumbuh 10,36%.

Sementara itu, impor juga mengalami pertumbuhan di kuartal II-2021 sebesar 50,21% dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya, dan tumbuh 9,88% dibandingkan kuartal sebelumnya. Impor terbesar terjadi untuk bahan bahan baku penolong 57,80%, kemudian impor barang modal 29,11%, dan barang konsumsi 31,50%.

Adapun, pertumbuhan tersebut dipengaruhi oleh perbaikan ekonomi global terutama beberapa negara yang menjadi mitra dagang Indonesia seperti China tumbuh 7,9%, Singapura 14,3%, Korea Selatan 5,9%, dan Vietnam 6,6%.

“Pulihnya ekonomi pada negara yang menjadi mitra dagang kita itu mendorong permintaan luar negeri jadi ekspor kita meningkat,” ujarnya.

Sementara itu, jika dilihat menurut lapangan usahanya pertumbuhan ekonomi di kuartal II-2021 (yoy) ini didorong oleh lima sektor dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 64,85%, yaitu industri, pertanian, perdagangan, konstruksi, dan pertambangan.

Industri pengolahan sendiri mengalami pertumbuhan 6,58%, pertanian 0,38%, perdagangan 9,44%, konstruksi 4,42%, dan pertambangan 5,22%.

"Artinya pertumbuhan ekonomi di sektor-sektor ini, itulah yang mempengaruhi pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan," pungkasnya.