Pemkot Semarang Berambisi Raih Swasti Saba Wistara

Pemkot Semarang Berambisi Raih Swasti Saba Wistara Tugu Muda ikon Kota Semarang, Jateng. (Foto: Google Maps/Albert Ghana Pratama)

SEMARANG - Pemerintah Kota (Pemkot) Semarang, Jawa Tengah (Jateng), berambisi merah predikat Swasti Saba Wistara. Sejumlah upaya pun dilakukan.

Jaminan kesehatan masyarakat menyeluruh (universal health coverage/UHC), Si Cepat Ambulans Hebat, Konsultasi Dokter (Konter), Puskesmas Tanpa Antrian Kota Semarang (Pustaka), dan layanan darurat 112. Beberapa inovasi yang telah dikerjakan.

Kemudian, terang Wali Kota Semarang, Hendrar Prihadi, membentuk Forum Kota Sehat. Juga mengalokasikan Rp50 juta per kelurahan.

"Dimaksudkan, untuk menampung masukan. Guna penyusunan kebijakan selanjutnya. Agar kota Semarang menjadi bersih dan sehat," katanya kala menerima Tim Verifikasi Penilaian Kota Sehat, Rabu (31/7).

Forum Kota Sehat diluncurkan 2014. Guna menunjang rencana pembangunan daerah 2016-2021. Kini diketuai Tia Hendrar Prihadi.

Dengan menjadi Kota Sehat, menurut dia, kesehatan masyarakat kian baik. Juga meningkat.

Swasti Saba Wistara. Merupakan predikat puncak penghargaan Kota Sehat. Di bawahnya Swastika Saba Wiwerda dan Swastisaba Padapa. Anugerah diberikan Kementerian Kesehatan (Kemenkes).

Kota Semarang mendapat predikat Padapa pada 2015. Dua tahun berselang, naik. Menjadi Wiwerda.

Ibu Kota Jateng ini dinyatakan lolos. Masuk ke dalam tujuh kriteria tatanan. Kawasan pemukiman, sarana, dan prasarana umum; sarana lalu lintas tertib dan pelayanan transportasi; kawasan pertambangan sehat; kawasan pariwisata sehat; kawasan pangan dan gizi; kehidupan masyarakat sehat-mandiri; serta kehidupan sosial sehat.

Pun terdapat indikator penilaian. Seperti tercapainya Semarang ODF pada 2018; menurunnya angka penderita DBD dan angka kematian ibu-bayi; serta berbagai kegiatan di kelurahan: Pola hidup bersih dan sehat (PHBS), senam mandiri, pilah sampah, penghijauan, biopori, pembentukan pariwisata sehat, dan pertanian kota.

"Dalam implementasinya, kita bersinergi. Dengan berbagai elemen masyarakat. Seperti PKK, FKS, akademisi, dan lembaga lain," ungkap Tia, menyitir Tribun Jateng.