Keris, Senjata Tradisional yang Masih Digandrungi

 Keris, Senjata Tradisional yang Masih Digandrungi Beberapa keris koleksi Museum Keris Nusantara di Kota Solo, Jawa Tengah. (Foto: Twitter/@setkabgoid)

Semarang - Indonesia kaya akan kebudayaannya, termasuk pusaka tradisional. Hampir tiap daerah memiliki nama, bentuk, dan ciri khasnya masing-masing. Tosan aji misalnya, senjata pusaka tradisional Jawa.

Istilah tosan aji merujuk pada besi. Ia diciptakan bukan cuma sebagai senjata, namun sifat kandel bagi pemiliknya atau membangkitkan keberanian dan keyakinan.

Pembuatannya pun untuk berbagai kebutuhan. Contohnya, keris untuk membantu pertanian, rentenir, kekuasaan, dan lain sebagainya tergantung energi sang pencipta.

Makin tinggi tingkat spiritual sang empu, mengutip jateng.tribunnews.com, kian hebat kekuatan keris yang diciptakan.

Meski begitu, belakangan keris tak diincar karena kekuatan magis. Para kolektor cenderung mempertimbangkan aspek bentuk dan nilai sejarahnya.

Kolektor keris asal Mranggen, Kota Semarang, Jawa Tengah (Jateng), Dedi Haryono, misalnya. Keris dikoleksinya sebagai pendukung edukasi, mengingat dirinya berprofesi sebagai guru matematika dan pramuka.

Ketertarikannya bermula dari sebuah artikel yang menuliskan, Raja Australia memiliki keris Pangeran Diponegoro. "Lalu saya berpikir, 'Kalau orang luar suka keris, berarti ada sesuatu yang istimewa dari keris itu sendiri'," ucapnya di sela pameran tosan aji di Balai Kota Semarang, Selasa (16/10).

"Baru saya belajar sedikit-sedikit. Dari yang semula tidak tahu karena hanya pegang sama lihat, ternyata memang keris itu mempunyai sesuatu yang istimewa. Keris itu berbeda dengan senjata yang lainnya," tambah Dedi.

Sampai kini, dirinya baru mengoleksi 30 macam keris. Jauh-jauh dari Mranggen ke Balai Kota hanya untuk menambah koleksinya.

Di Jawa, keris memiliki macam bentuk. Mulai dari keris lurus, keris liuk tiga, liuk lima, sampai liuk 13. Ada yang lebih.

Keris diciptakan empu sebagai metode pembelajaran, lantaran budaya baca-tulis saat itu rendah. Masyarakat cenderung berkumpul. Karenanya, empu menitipkan petuah petuahnya pada ricikan-ricikan yang ada dikeris.

"Bagi saya, keris adalah filsafat hidup. Kalau saya pribadi, punya harapan ingin menghilangkan mistis sama anggapan, bahwa keris itu adalah klenik atau keris itu mistis. Hal itu yang salah dari orang orang zaman sekarang," paparnya.

"Orang luar negeri saja suka dengan keris, kenapa kita sebagai bangsa sendiri kurang menghargainya?" tutup Dedi bertanya.