Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) melaporkan progres signifikan dalam pemulihan fasilitas kesehatan pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Hingga 11 Februari 2026, mayoritas rumah sakit dan Puskesmas di wilayah terdampak telah kembali beroperasi.
Sebagai bagian dari Satgas PRR Pascabencana Sumatera, Menteri Kesehatan Budi Gunadi Sadikin menyampaikan bahwa dalam waktu kurang dari dua bulan, sebagian besar layanan kesehatan dasar berhasil dipulihkan. Fokus penanganan mencakup reaktivasi rumah sakit, Puskesmas, fasilitas pendidikan, pemulihan ekonomi masyarakat, serta perbaikan infrastruktur fisik.
Dari total 87 rumah sakit yang terdampak saat awal bencana di tiga provinsi tersebut, sembilan rumah sakit sempat berhenti beroperasi, delapan di Aceh dan satu di Sumatera Utara. Saat ini, seluruh rumah sakit telah kembali beroperasi optimal di daerah terdampak.
Sementara itu, dari 867 Puskesmas terdampak, sebanyak 152 sempat tidak beroperasi. Kini, hanya dua Puskesmas di Aceh yang masih dalam tahap pemulihan, yakni di Lokop (Aceh Timur) dan Jambur Lak Lak (Aceh Tenggara). Pemerintah terus mempercepat perbaikan agar layanan kesehatan masyarakat dapat kembali normal sepenuhnya.
Menurut Budi Gunadi, percepatan pemulihan fasilitas kesehatan ini tidak terlepas dari dukungan personel TNI, Polri, relawan kesehatan, BUMN, serta berbagai pihak yang mendonasikan alat kesehatan. Kolaborasi lintas sektor tersebut menjadi kunci cepatnya pemulihan layanan kesehatan di wilayah terdampak bencana Sumatera.
Sebagai langkah lanjutan, Kementerian Kesehatan telah mengusulkan anggaran rehabilitasi pascabencana sebesar Rp529,3 miliar. Anggaran ini difokuskan untuk memperbaiki dan mengganti alat kesehatan yang rusak, sehingga operasional rumah sakit dan Puskesmas dapat kembali optimal.
Pemulihan fasilitas kesehatan di Sumatera menjadi bukti bahwa layanan dasar masyarakat tetap menjadi prioritas utama pemerintah dalam fase rehabilitasi dan rekonstruksi pascabencana.