Ketua Satuan Tugas Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (Satgas PRR) Pascabencana Sumatera, Muhammad Tito Karnavian, menegaskan bahwa hampir 100% pengungsi pascabencana di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat tidak lagi tinggal di tenda saat momen Hari Raya Idulfitri 1447 H/2026.
“Pengungsi bencana Sumatera mendekati 100 persen tidak di tenda saat Lebaran,” kata Tito di Jakarta, Senin (23/3/2026).
Tito mengungkapkan, pada awal bencana pada Desember 2025, jumlah pengungsi tercatat lebih dari 2,1 juta jiwa. Kini, jumlah tersebut telah turun drastis dan tersisa 47 kepala keluarga (KK) atau 173 jiwa, yang tersebar di Kabupaten Bireuen dan Aceh Tamiang.
Para pengungsi di dua wilayah tersebut masih menunggu penyelesaian hunian sementara (huntara) serta penyaluran Dana Tunggu Hunian (DTH) agar dapat menempati tempat tinggal yang lebih layak. Untuk pengungsi di Bireuen, pemerintah akan menyalurkan DTH sebesar Rp1,8 juta per bulan selama tiga bulan. Sementara itu, pengungsi di Aceh Tamiang diproyeksikan mulai menempati huntara yang telah siap dihuni paling lambat pada pekan depan.
Menurut Tito, penanganan pengungsi pascabencana hidrometeorologi di Sumatera memiliki tantangan tersendiri. Bencana ini bersifat sporadis dan berdampak pada 52 kabupaten/kota di tiga provinsi di wilayah utara Pulau Sumatera. Salah satu tantangan utama adalah lokasi terdampak yang banyak berada di pedalaman, dekat aliran sungai, sehingga menyulitkan penyaluran logistik serta pemetaan untuk pembangunan huntara.
Karena itu, Tito mengapresiasi kolaborasi lintas sektor antara pemerintah pusat dan pemerintah daerah, termasuk unsur Forkopimda, yang dinilai berhasil mempercepat penanganan pengungsi hingga mendekati target nol pengungsi di tenda.
“Yang saya sampaikan spesifik khusus untuk pengungsi yang ada di tenda itu mendekati 100 persen, bukan berarti seolah-olah semua aspek hampir pulih,” ujar Tito. Ia menambahkan, laporan serupa juga telah disampaikannya saat mendampingi Presiden Prabowo Subianto merayakan Idulfitri bersama penyintas bencana di Aceh Tamiang.
Lebih lanjut, Tito menjelaskan bahwa dari total 52 kabupaten/kota terdampak, sebanyak 38 daerah telah masuk kategori normal, tiga daerah mendekati normal, dan 11 daerah masih memerlukan perhatian khusus.
Ia juga memastikan sejumlah infrastruktur vital telah kembali berfungsi normal, seperti jalan nasional, jembatan nasional, rumah sakit, dan puskesmas.
Meski demikian, pemulihan di beberapa sektor masih membutuhkan waktu lebih panjang, terutama untuk jalan daerah, jembatan daerah, dan normalisasi sungai.
“Masih ada yang butuh atensi, seperti pembersihan sungai dan beberapa jalan desa maupun jalan kabupaten yang jumlahnya cukup banyak. Itu memang membutuhkan waktu,” kata Tito.