Pemkot Yogyakarta Kembangkan Co-Working Space di Pasar Prawirotaman

Pemkot Yogyakarta Kembangkan Co-Working Space di Pasar Prawirotaman Foto: jogjakota.go.id

Yogyakarta, Pos Jateng – Pemerintah Kota (Pemkot) Yogyakarta mendorong keberadaan co-working space untuk pengembangan industri kreatif. Hal tersebut dilakukan dengan korlaborasi antara pemerintah, korporasi dan pelaku indutsri kreatif di Kota Yogyakarta.

Wakil Wali Kota Yogyakarta, Heroe Poerwadi, mengatakan keberadaan co-working space mulai semakin banyak yang mengadopsi baik yang diselenggarakan pemerintah maupun pelaku usaha.

“Pemkot Yogyakarta mencoba mewujudkannya di Pasar Prawirotaman, di lantai empat kami buat co-working space. Di sana ada ruang-ruang pertemuan skala kecil, menengah dan besar, studio podcast, studio musik, editing dan bahkan perbankan untuk transaksi,” kata Heroe pada keterangan resmi, Kamis (28/10).

Heroe mengatakan co-working space di Pasar Prawirotaman lantai 4 itu untuk mengakomodasi para pelaku industri kreatif. Termasuk untuk menyasar para pelaku digital freelencer yang kini mulai berkembang.

“Inilah yang kita coba kembangkan wisata karakter khusus. Akomodasi para digital nomad dengan harapan bisa membawa angin ekosistem untuk pertumbuhan dan perkembangan industri kreatif di Kota Yogyakarta,” paparnya.

Heroe juga menyebut ke depan pusat desain industri nasional akan dibangun di Kota Yogyakarta, di Terban. Pusat desain industri nasional akan dikembangkan menjadi tempat bertemunya para desainer industri dalam konteks luas, seniman, budayawan dengan mendekatkan para korporasi untuk membuat pekerjaan bersama.

Co-working space, digital freelencer dan pusat desain industri nasional menjadi ekosistem yang harus dibangun. Hal terpenting yakni membangun inkubasi di pusat desain industri nasional sehingga para inkubator dapat membangun ekosistem industri berdasarkan potensi yang dimiliki di Kota Yogyakarta,” ujarnya.  

Sementara itu, Pengasuh Komunitas Budaya Yogya Semesta, Hari Dendi, menyampaikan bisnis start-up diharapkan menjadi pahlawan milenial yang dapat membangun kooperatif bisnis sehingga keuntungan yang didapat lebih proporsional.

“Dalam pengembangan bisnis industri kreatif dengan teknologi digital tidak sepenuhnya untuk efisiensi tapi juga mengedepankan sumber daya manusia karena banyak pengangguran. Ini menjadi tantangan kita dan yang disebut pahlawan milenial,” ucap Hari Dendi.