Ngotot Mudik, tsunami Covid-19 mengancam Indonesia

Ngotot Mudik, tsunami Covid-19 mengancam Indonesia Calon penumpang bersiap menaiki bus AKAP di terminal bayangan Pondok Pinang, Jakarta, Jumat (3/4/2020). Foto Antara/Reno Esnir

Tsunami Covid-19 seperti di India berpeluang terjadi di Indonesia. Untuk mengantisipasinya, pemerintah mengeluarkan kebijakan melarang mudik Lebaran pada 6-17 Mei 2021. 

Meski demikian, banyak masyarakat yang tetap ngotot mudik. Epidemiolog dari Universitas Gadjah Mada (UGM), Riris Andono Ahmad, menilai, program vaksinasi Covid-19 turut mendorong seseorang lebih berani mudik, padahal belum tentu aman dari penularan.

"Sekarang sudah ada vaksin, terus mereka merasa bisa mudik. Seperti di India, kasus meningkat pesat karena mereka merasa sudah ada vaksin. Cukup banyak yang divaksin sehingga mereka menjadi abai, dianggapnya sudah aman," ujarnya, Minggu (9/5).

Karenanya, Riris berkeyakinan, potensi terjadinya tsunami Covid-19 di Indonesia semakin besar jika banyak yang bersikukuh ingin pulang kampung dan mengabaikan protokol kesehatan (prokes). Apalagi, berbagai kota berstatus zona oranye dan merah, yang menunjukkan penularan tingkat lokal meluas.

Adanya ancaman varian baru asal Inggris, Afrika Selatan, dan India yang masuk ke Indonesia membuat potensi terjadinya tsunami Covid-19 membesar. Karenanya, aturan pelarangan mudik dan penegakan hukum harus konsisten, terlebih masyarakat suka mencari pembenaran, misalnya tetap terhindar dari penularan asal menerapkan prokes.

Padahal, terang dia, persoalan mudik lebih pada meningkatkan mobilitas. Untuk itu, penegakan hukum mesti menumbuhkan kesaran dan tak sekadar memberikan efek jera.

Riris melanjutkan, mudik memberikan risiko penularan Covid-19 kepada keluarga di kampung halaman. "Kuncinya adalah pada individu."

"Kalau kita bisa melakukan tindakan pencegahan secara individu, kita akan melindungi orang yang di sekitar kita, terutama keluarga, orang tua, dan komorbid,” tandasnya.